Pelestarian Alam
Konservasi Lingkungan Jadi Alternatif Pendidikan
Bandung, Kompas - Konservasi lingkungan menjadi salah satu alternatif pendidikan di tengah padatnya kurikulum di dalam kelas. Pendidikan di luar kelas diharapkan bisa memberikan kontribusi positif terhadap pembentukan pribadi siswa.
Kejenuhan terhadap pembelajaran di dalam kelas pernah diungkapkan guru besar pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof Dr Nanang Fatah. Akibat kejenuhan itu, banyak siswa tidak tertarik pada mata pelajaran yang diberikan.
Di tingkat perguruan tinggi, kejenuhan terhadap mata kuliah menimbulkan dampak semakin sedikitnya peminat ilmu-ilmu murni. Di beberapa universitas negeri, program studi dengan sedikit peminat sudah mulai ditutup. Untuk menjaga siswa dari kejenuhan yang berakibat pada rendahnya tingkat prestasi siswa, pendidikan lingkungan di luar kelas menjadi salah satu terobosan.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat Ikim Zaenal Muttaqien, Senin (4/6), mengatakan, pendidikan lingkungan memberikan keuntungan baik bagi siswa maupun sekolah. Siswa atau sekolah mendapat materi baru yang dipraktikkan di lingkungan tempat belajarnya sehingga tidak membosankan. Adapun BKSDA mendapat keuntungan karena makin banyak anggota masyarakat yang sadar lingkungan.
Proyek pendidikan konservasi sudah dilakukan Balai Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP). Tahun 2007, Seksi Konservasi TNGP Wilayah I Sukabumi dua kali melakukan pendidikan konservasi, masing-masing untuk SMA dan SD.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sukabumi Noor Rakhmat D mengatakan, target pendidikan lingkungan tidak hanya menjadikan siswa sebagai pelopor sadar lingkungan bagi keluarganya, tetapi juga menjadi salah satu bagian dari kampanye lingkungan yang berguna bagi kelangsungan hutan. (aha)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar