Senin, 19 November 2007

Rendahnya Pendidikan Menghambat Pelestarian Alam di Dunia Islam

Buta huruf dan rendahnya tingkat pendidikan adalah hambatan terbesar upaya pelestarian lingkungan hidup di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, kata Fawzia Assifi, Presiden Organisasi Pariwisata Afghanistan, di Jakarta, Kamis.

Islam, seperti dijelaskan dalam Al-Quran, sangat memperhatikan upaya pelestarian lingkungan hidup. Tapi sayangnya masih banyak orang Islam yang buta huruf, sehingga tidak bisa membaca konsep pelestarian yang dipaparkan oleh Al-Quran, kata Fawzia ketika berbicara dalam diskusi Islam dan Konservasi Alam.

Ia kemudian menyarankan agar isu pendidikan lebih diperhatikan lagi di negara-negara Islam, seiringan dengan upaya konservasi lingkungan hidup.

Supaya penduduk Muslim bisa membaca dan memahami konsep-konsep Islam secara benar dan lengkap, kata dia. Fawzia menyinggung terorisme yang marak di Afghanistan juga disebabkan oleh buta huruf dan tingkat pendidikan yang rendah.

Umat Islam harus sejahtera dan berpendidikan agar usaha-usaha konservasi alam bisa dijalankan optimal, katanya.

Islam memiliki konsep konservasi alam yang dipaparkan dalam fiqih lingkungan hidup, namun banyak negeri Islam justru menghadapi kerusakan alam yang parah.

Kegagalan ini ditengarai disebabkan oleh Islam yang dipakai hanya sebagai agama, sementara konservasi harus diperlakukan sebagai keyakinan dalam kehidupan sehari-hari.

Agama Islam dan keyakinan pentingnya konservasi haruslah diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim.

Salah satunya dengan meminta para pemuka agama mengimbau umat tentang pelestarian alam, ini adalah cara yang sangat efektif karena mereka sangat didengar oleh penduduk Muslim, kata Dr Nazir Ahmad Shahidi, Deputi Menteri Ekonomi Afghanistan.

Metode imbauan pemuka agama terbukti berhasil di Indonesia ketika pemerintah memprogramkan penurunan laju pertumbuhan penduduk.

Pendekatan ini mensukseskan program Keluarga Berencana (KB) pada era Orde Baru, itu sebabnya pelestarian alam juga harus mendekati pemuka agama dan pondok-pondok pesantren, kata Fachruddin M. Mangunjaya dari Konservasi Internasional Indonesia (CII). antara/abi

-------------------------------------------------
Sumber: Republika Online

Tidak ada komentar: