Selasa, 18 Desember 2007

Info New Book PLH

Penulis : Butet Manurung
Judul : Sokola Rimba (Petualangan Belajar Bersama Orang Rimba)
Penerbit : Insist Press, Yogyakarta
Edisi : I, Juni 2007
Tebal : 250 halaman
Harga : Rp 38.000
ISBN : 979-3457-83- x

PETUALANGAN SEJATI SEJATINYA GURU

Ibuk, ado akehlah melawon?

Ee..akeh lagi lolo�capolah pintar?

Ado akeh todo lah tokang molajoko kanti?

(Ibu apa aku sudah pintar, ah aku masih bodoh, eh apa sudah pintar?
apa aku nanti bisa mengajar orang?

Itu sebagian pertanyaan yang muncul dari bocah-bocah yang hidup di
tengah rimba Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi, yang
ditujukan kepada Butet Manurung. Butet mengalami banyak kesulitan di
awal pendekatannya dengan masyarakat adat yang tinggal di TNBD Jambi
itu untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

Di kalangan masyarakat adat, yang biasa disebut orang rimba, ada
pendapat �gmending bodoh daripada pinter tetapi buat minterin orang�h.
Butet disangka akan mengubah adat mereka. Mereka pun sangat marah
terhadap Butet. Sempat terucap dari tetua adat, �gJangan usik-usik
adat kami!�h

Pada akhirnya perempuan bernama Saur Marlina Manurung ini mendapat
jalan masuk ke masyarakat rimba. Ketika itu ada dua orang rimba yang
datang pada Butet minta diajari baca tulis. Dari dua orang itulah,
sistem kader yang diterapkan Butet berhasil. Anak rimba yang minta
diajari baca tulis semakin banyak. Hingga pada suatu ketika
berdirilah sokola rimba alias sekolah rimba.

Model sekolah alternatif seperti sokola rimba tak cuma ada di Jambi.
Butet keluar masuk hutan dan menyambangi beberapa suku terbelakang
yang tersebar di berbagai daerah seperti Aceh, Makassar, Bulukumba,
Flores, Halmahera, Klaten, dan Bantul.

Kerja keras dan keseriusan Butet memberikan pendidikan kepada
komunitas-komunitas terpinggirkan dan terbelakang telah menyita
perhatian masyarakat pendidikan. Membaca buku Sokola Rimba
(Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba) tak ubahnya menyimak
catatan harian Butet Manurung. Larik-larik kalimatnya dituturkan
secara sederhana. Tidak menjadikan pembaca merasa seperti
diceramahi. Melainkan mengajak imajinasi pembaca terbang ke alam
rimba belantara di pedalaman Jambi. Banyak kisah pahit-getir
menjelajah hutan dan kehidupannya bersama orang rimba (OR) yang
disebutnya amat bersahaja.

Ada episode-episode yang bisa membuat tertawa geli menyimak kisah-
kisah orang rimba yang udik, konyol, dan lugu. Ada pula penggalan
yang bisa membuat decak kagum saat Butet mengungkap tradisi luhur
dan sistem sosial orang rimba.

Pada bagian pertama buku ini, Butet menulis tuntas kisah pribadinya:
dari menyusup di antara celah dedaunan belantara, akar bahar
raksasa, selapisan tanah yang mengendap selama berabad-abad, dan
pohon jangkung sialang (madu) yang disucikan, hingga ketakutannya
hidup di tengah dangau sendirian, seperti tercampak di dunia yang
gaib, rahasia, dan sekaligus menjadi ruang sengketa terbuka, yang
sempat membuatnya menggigil saat gelap menyelimuti malam.

Memang, masih banyak orang yang mau mengajar untuk komunitas
terpencil dan terbelakang yang masih tinggal di tengah-tengah hutan.
Namun, berbagai rintangan banyak pula yang menyurutkan semangat para
guru. Bukan saja karena pola kehidupan mereka masih sangat sederhana
sehingga banyak menolak kehadiran orang luar. Tantangan datang dari
sulitnya medan, diperparah lagi risiko yang dihadapi selama berada
di tengah hutan, seperti terserang penyakit, dihisap pacet, diterkam
harimau dan dipatuk ular.

Menulis, Membaca dan Berhitung

Butet menelusup hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi
berawal dari keterlibatannya dalam Komunitas Konservasi Indonesia
Warsi (KKI Warsi), sebuah organisasi yang bergerak sebagai
fasilitator pendidikan. Aktivis muda progresif yang mengantongi dua
ijazah, Antropologi dan Bahasa ini, tugas awalnya hanya sebagai
pemberi informasi kepada orang rimba tentang peran penting mereka
untuk menjaga hutan secara umum.

Ia mengawali pendekatannya dengan pendidikan, yang diyakini sebagai
awal dari segala perubahan sikap. Butet secara tidak sengaja
mengawali petualang hidupnya dengan menjadi salah satu pendiri model
sekolah nonformal yang diselenggarakan di rimba.

Setelah sekian lama berinteraksi, Butet sadar bahwa orang-orang
rimba hanya butuh sekelumit pengetahuan tentang baca, tulis, dan
berhitung untuk berinteraksi dengan orang lain di perkotaan. Mereka
tak perlu diceramahi bagaimana menjaga hutan. Mereka tak perlu
diajarkan ilmu konservasi yang njlimet hanya untuk memahami kenapa
hutan perlu bestari. Butet justru harus bia menggali keunggulan
orang rimba dan membantu mereka ketika berhadapan dengan persoalan
dengan masyarakat luar.

Pergulatan nurani Butet sangat terlihat saat melihat laporan-laporan
dan foto-foto kegiatannya dijadikan kunci mengalirnya dana dari
lembaga donor penyokong uang operasional. Butet tersiksa. Nuraninya
berontak. Ia keluar dari KKI Warsi. Perempuan yang menghabiskan masa
kecilnya di Leuven, Belgia ini memilih mengelola sekolah rimbanya
tanpa keterlibatan lembaga manapun.

Namun, jangan membayangkan Sokola Rimba Butet adalah sepetak
bangunan bertembok beratap layaknya sekolah. Sokola Butet hanya
dangau kecil tak berdinding, tak beratap, agar jika tak dibutuhkan
lagi bisa segera ditinggalkan. Sokola rimba adalah sekolah nomaden,
justru sekolah yang mendatangi murid.

Maka jika ditanya, di manakah alamat Sokola Rimba itu, maka Butet
menjawab enteng: pada koordinat 01�Œ 05�f�f1 LS - 102�Œ 30�f�f BT, alias
lokasi Taman Nasional Jambi. Letak sekolahnya memang tak pasti desa
maupun kecamatan.

Di sekolah, Butet membagikan buku tulis bergaris, pensil, dan pena
yang dia punyai. �gMurid�h yang tidak kebagian disilakan mengambil
ranting dan menggarisi tanah. Suatu ketika saat tiba waktu belajar
menggambar, seorang murid menangkap seekor kijang kecil. Binatang
lucu itu ditidurkan di atas kertas dan mulailah sang murid
menggambar ruas-ruas tubuh kijang tersebut.

Sulitnya Menjadi Guru

Di bagian kedua, buku ini menawarkan opini yang lebih non-diari
kehidupan orang rimba. Butet menggugat pandangan orang luar (non-
rimba) yang menganggap orang rimba butuh belas kasihan, yang justru
menjadikan orang rimba makin rendah diri.

Butet juga menentang anggapan bahwa orang rimba terbelakang, tak
berbudaya. Pengalamannya tinggal bersama orang rimba mencatat
kehidupan mereka mandiri dan ramah lingkungan, selama tak ada
gangguan dari orang luar.

Sokola Rimba juga menjadi sekolah nonformal yang menurutnya lebih
mengakrabkan masyarakat adat, terpencil dan terasing. Sekolah yang
bukan hanya bisa baca-tulis-hitung, namun juga bisa memberikan
pilihan-pilihan kepada orang rimba memilih dan sadar akan
pilihannya.

Perjuangan tak kenal lelah Butet itu banyak mendapat apresiasi dari
berbagai kalangan. Ia menerima banyak penghargaan. Misalnya Man and
Biosphere Award 2000 dari LIPI, Woman of the Year bidang pendidikan
dari ANTV Jakarta (2004), Heroes of Asia Award kategori konservasi
dari Majalah TIME (2004), penghargaan pendidikan untuk anggota
masyarakat biasa dari Menteri Pendidikan Nasional, penghargaan
perempuan dalam bidang keadilan dari PEKA, dan penghargaan dari
Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (2005).

Kisah Butet bukan hanya catatan tentang etnografi rimba dan upaya
dia mendirikan sokola rimba. Melainkan juga kitab kearifan tentang
hidup berdampingan dengan manusia-manusia terpinggirkan dan
terasing.

Tidak ada komentar: